<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>[r:zrd] &#187; Thought</title>
	<atom:link href="http://www.rizkyardianto.com/category/thought/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.rizkyardianto.com</link>
	<description>Rizky Ardianto</description>
	<lastBuildDate>Sun, 15 Aug 2010 09:48:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>#011 &#124; We Need You! Work Safely</title>
		<link>http://www.rizkyardianto.com/wnyws/</link>
		<comments>http://www.rizkyardianto.com/wnyws/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Aug 2010 09:47:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rzrd</dc:creator>
				<category><![CDATA[Photography365]]></category>
		<category><![CDATA[Photoworks]]></category>
		<category><![CDATA[Stuff]]></category>
		<category><![CDATA[Thought]]></category>
		<category><![CDATA[[r:zrd]]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rizkyardianto.com/?p=560</guid>
		<description><![CDATA[
Terharu saya ngeliat tulisan ini, We Need You! Work Safely (Kami Butuh Anda! Bekerjalah dengan Selamat). Sebuah kata-kata sederhana, dan mungkin kata-kata seperti ini lebih &#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-579" href="http://www.rizkyardianto.com/wnyws/collages/"><img class="alignnone size-full wp-image-579" title="wnyws" src="http://www.rizkyardianto.com/wp-content/uploads/2010/08/Collages.jpg" alt="" width="800" height="450" /></a></p>
<p>Terharu saya ngeliat tulisan ini, <strong>We Need You! Work Safely (Kami Butuh Anda! Bekerjalah dengan Selamat).</strong> Sebuah kata-kata sederhana, dan mungkin kata-kata seperti ini lebih cocok  ditempel di dinding di perusahaan tempat kita bekerja. Yang beda disini  adalah, kata-kata ini tertulis di box catering, dan belum pernah saya  jumpai di box makanan manapun. Mungkin harapan dari perusahaan catering  ini adalah, kita selalu sehat dan memesan makanan dari catering ini,  karena bagaimanapun dia perlu orang yang masih memakan produknya agar  perusahaan tetap berjalan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rizkyardianto.com/wnyws/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>#010 &#124; Medan Plaza</title>
		<link>http://www.rizkyardianto.com/mp/</link>
		<comments>http://www.rizkyardianto.com/mp/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jul 2010 16:10:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rzrd</dc:creator>
				<category><![CDATA[Movie]]></category>
		<category><![CDATA[Photography365]]></category>
		<category><![CDATA[Photoworks]]></category>
		<category><![CDATA[Stuff]]></category>
		<category><![CDATA[Thought]]></category>
		<category><![CDATA[[r:zrd]]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rizkyardianto.com/?p=547</guid>
		<description><![CDATA[
There is always a first time for everything.
Sering banget ya kita denger ungkapan ini, baik yang positif ataupun yang negatif. Kemarin, untuk pertama kalinya di &#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-548" href="http://www.rizkyardianto.com/mp/img_1723/"><img class="alignnone size-full wp-image-548" title="Plaza" src="http://www.rizkyardianto.com/wp-content/uploads/2010/07/IMG_1723.jpg" alt="" width="800" height="451" /></a></p>
<p><strong>There is always a first time for everything.</strong></p>
<p>Sering banget ya kita denger ungkapan ini, baik yang positif ataupun yang negatif. Kemarin, untuk pertama kalinya di Medan, saya sempatkan untuk  nonton ke bioskop, untuk nonton <em>installment </em>ketiga dari serial saga Twilight, berjudul Eclipse. Film pertama, Twilight, saya tonton di bioskop, dengan kesan filmnya biasa aja, alurnya lambat dengan konflik yang ga terlalu istimewa. Seri kedua, New Moon, baru saya tonton lewat DVD, 3 jam sebelumnya, karena kebetulan saya membawa beberapa DVD yang belum sempat ditonton dan salah satunya New Moon ini. Saya tonton semata-mata agar alur ceritanya tetap bisa saya ikuti. Kesan dari New Moon, hampir sama dengan film yang pertama, ga terlalu berkesan.</p>
<p>Di film yang ketiga ini, emosi dan konflik sudah mulai terasa, dimana keputusan yang cukup besar harus diambil oleh Bella, sang Juliet dalam cerita ini, yang harus memilih antara Romeo A &#8211; Edward atau Romeo B &#8211; Jacob. Walaupun tahu bahwa Bella akan tetap memilih Edward, ada saat-saat dimana dia bisa saja merubah keputusannya dan berpaling ke Jacob. Ditambah lagi, sebuah keputusan lain yang juga besar, saat nanti Bella memutuskan untuk menjadi vampir, artinya dia akan memulai genderang perang antara keluarga Cullen dengan Quileute.</p>
<p>Dari ketiga film ini, menurut saya Eclipse lah film yang terbaik dari 2 film sebelumnya dan membuat saya ingin menonton seri berikutnya, Breaking Dawn. Saya memang tidak mengikuti bukunya, tapi saya yakin membaca bukunya akan jauh lebih seru dibandingkan filmnya.</p>
<p>Oke, cukup dengan filmnya. Ada satu hal lagi yang memang dari dulu ingin saya lakukan, yaitu mencoba setiap bioskop di kota yang saya singgahi. Bioskop pertama, Medan Plaza, punya suasana yang agak tradisional, mirip dengan Planet Hollywood di Jakarta. Pemanggilan penonton dilakukan dengan membunyikan bel, owh, so last year. Sistem audio biasa aja dan cropping film dari operator kurang bagus sehingga masih meninggalkan bayangan di sisi atas dan bawah film. Untuk ukuran Medan, rasanya perlu dibenahi, karena walaupun belum ada kompetitor seperti di Bandung dan Jakarta, penonton sudah sewajarnya diberikan pengalaman yang baru dalam menonton film.</p>
<p>Sebagai baseline, bioskop ini saya kasih 2 bintang, dan akan saya bandingkan dengan bioskop lainnya di Grand Palladium, Sun Plaza dan Thamrin Plaza.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rizkyardianto.com/mp/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>#009 &#124; Persepsi</title>
		<link>http://www.rizkyardianto.com/persepsi/</link>
		<comments>http://www.rizkyardianto.com/persepsi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2010 17:04:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rzrd</dc:creator>
				<category><![CDATA[Photography365]]></category>
		<category><![CDATA[Photoworks]]></category>
		<category><![CDATA[Thought]]></category>
		<category><![CDATA[[r:zrd]]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rizkyardianto.com/?p=534</guid>
		<description><![CDATA[
Tadi pagi, sewaktu perjalanan menuju kantor, ada seseorang yang memberitahu bahwa roda belakang mobil saya bocor. Setelah itu, saya coba merasakan kejanggalan atau hal yang &#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-536" href="http://www.rizkyardianto.com/persepsi/persepsi-2/"><img class="alignnone size-full wp-image-536" title="persepsi" src="http://www.rizkyardianto.com/wp-content/uploads/2010/06/persepsi1.jpg" alt="" width="800" height="451" /></a></p>
<p>Tadi pagi, sewaktu perjalanan menuju kantor, ada seseorang yang memberitahu bahwa roda belakang mobil saya bocor. Setelah itu, saya coba merasakan kejanggalan atau hal yang mungkin lain dari biasanya, mengingat ada beberapa cerita dengan modus perampokan yang diawali dengan hal seperti ini. Setelah beberapa saat dan agak jauh dari orang yang memberitahu tadi, saya putuskan untuk menepi dan memeriksa roda belakang. Terlihat baik-baik saja dan tak ada masalah, saya putuskan untuk melanjutkan perjalanan. Sisa perjalanan ke kantor saya masih merasakan kejanggalan terhadap sisi roda belakang, sesampainya ke kantor pun kembali saya cek dan rasanya tak ada masalah.</p>
<p>Untuk lebih meyakinkan diri sendiri, pulang kantor saya sempatkan untuk mampir di sebuah SPBU yang menyediakan pengecekan tekanan ban di sekitar jalan Gatot Subroto, mau langsung ke bengkel rasanya agak berlebihan, karena tampak kasat mata, kondisinya baik-baik saja. Tekanan ban yang disarankan (dalam keadaan dingin seharusnya) adalah 35 PSI atau 2.4 Bar. Hmm, masih normal ternyata, tekanan roda belakang, keduanya masih di kisaran 2.4 Bar. Memang tekanan semua roda baru saya cek minggu sebelumnya.</p>
<p>Mungkin ini yang disebut realitas sebagai akibat dari persepsi, karena sepanjang perjalanan saya merasa ada hal yang janggal, padahal sebenarnya dari hal teknis, tak ada masalah. Dan anehnya, setelah dilakukan pengecekan, perasaan mengendarai mobil tersebut kembali normal.</p>
<p>Setelah ini saya merasa tagline Just Do It! lebih bermakna dibandingkan sebelumnya. Daripada terlalu banyak persepsi yang membuat kita enggan atau bahkan tak jadi melakukan sesuatu karena ketakutan yang mungkin hanya ada di pikiran kita, lebih baik coba dulu, baru kita lihat hasilnya.</p>
<p><em><a title="Wikipedia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Persepsi" target="_blank"><strong>Persepsi</strong></a> adalah sebuah proses saat individu mengatur dan  menginterpretasikan kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti  bagi lingkungan mereka.<sup id="cite_ref-persepsi_0-0"><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Persepsi#cite_note-persepsi-0">[1]</a></sup> Perilaku individu seringkali didasarkan pada  persepsi mereka tentang kenyataan, bukan pada kenyataan itu sendiri.<sup id="cite_ref-persepsi_0-1"><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Persepsi#cite_note-persepsi-0">[1]</a></sup></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rizkyardianto.com/persepsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>#008 &#124; Gak Jelas</title>
		<link>http://www.rizkyardianto.com/gakjelas/</link>
		<comments>http://www.rizkyardianto.com/gakjelas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 04:34:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rzrd</dc:creator>
				<category><![CDATA[Photography365]]></category>
		<category><![CDATA[Photoworks]]></category>
		<category><![CDATA[Thought]]></category>
		<category><![CDATA[[r:zrd]]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rizkyardianto.com/?p=524</guid>
		<description><![CDATA[
Gambar apaan sih ini? gak jelas banget!

Gak jelas? Pake kacamata doong!
Gak jelas? Cari guru yang lain laah!
Gak jelas? Ooo, mungkin autofocusnya belon dinyalain kalii!
Gak jelas? &#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-525" href="http://www.rizkyardianto.com/gakjelas/img_0141/"><img class="alignnone size-full wp-image-525" title="IMG_0141" src="http://www.rizkyardianto.com/wp-content/uploads/2010/06/IMG_0141.jpg" alt="" width="800" height="452" /></a></p>
<p><strong>Gambar apaan sih ini? gak jelas banget!</strong></p>
<ul>
<li>Gak jelas? Pake kacamata doong!</li>
<li>Gak jelas? Cari guru yang lain laah!</li>
<li>Gak jelas? Ooo, mungkin autofocusnya belon dinyalain kalii!</li>
<li>Gak jelas? Pake pensil 9B sanah!</li>
<li>Gak jelas? Gantung gitu, maksudnya status lo?</li>
<li>Gak jelas? Yaa, biasanya sih tipe film festival memang gitu!</li>
<li>Gak jelas? Iya nih, masa tiap ganti menteri, kurikulumnya juga ganti!</li>
</ul>
<p>Banyak ya ketidakjelasan di sekitar kita, dari aktivitas sehari-hari, sampe ke urusan pemerintahan yang kayanya ga jelas banget, berjuang untuk rakyat, untuk partai, atau untuk keluarga &amp; dirinya sendiri. Sampe-sampe untuk hubungan interpersonal ada lagunya tuh, <em>maau dibaawa kemanaa hubungan iniii..</em></p>
<p>Hehe, oke, kembali ke topik <span style="text-decoration: line-through;">ga pake hidayat</span>, tanpa saya sadari, ketidakjelasan ini memang diperlukan. Saya coba bayangkan kalo semua hal di dunia ini udah ada penjelasannya secara mendetail, dimana semua hal ada buku manualnya. Sepertinya udah ga ada lagi rasa penasaran untuk mencoba hal yang baru untuk pertama kalinya. Misalnya di buku manual tertera, <em>untuk dapat mengendarai sepeda, diperlukan keseimbangan&#8230; </em>Bagaimana kita bisa merasakan rasa seimbang itu sebelum kita merasakan jatuh karena ketidakseimbangan?</p>
<p>Ketidakjelasan membuat kita untuk terus berinovasi, minimal dalam mencari jawaban atas ketidakjelasan tadi, kita menemukan hal baru yang membuat kita lebih kuat dan lebih tahu dari sebelumnya, selama kita semangat untuk mencari jawabannya. <span style="text-decoration: line-through;">Kalo ketidakjelasan tadi berhubungan dengan cacat mata, pake kacamata bisa bikin jadi lebih keren juga looh.</span></p>
<ul>
<li>Gak jelas? Promo gitu lloh, tanya customer service deeh!</li>
<li>Gak jelas? Frekuensinya kurang pas mungkiin!</li>
<li>Gak jelas? Ganti dari analog jadi TV Digital doong!</li>
<li>Gak jelas? Cari jawabannya sendiri paak!</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rizkyardianto.com/gakjelas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Java Jazz Festival 2010</title>
		<link>http://www.rizkyardianto.com/jjf2010/</link>
		<comments>http://www.rizkyardianto.com/jjf2010/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 10:31:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rzrd</dc:creator>
				<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Photoworks]]></category>
		<category><![CDATA[Thought]]></category>
		<category><![CDATA[[r:zrd]]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rizkyardianto.com/?p=379</guid>
		<description><![CDATA[
Good Experience (In a Bad Way).
Tahun ini, untuk pertama kalinya, saya bisa menghadiri sebuah festival jazz terbesar di Indonesia, Java Jazz Festival 2010.  Acara ini &#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-396" href="http://www.rizkyardianto.com/jjf2010/jjf2010-2/"><img class="alignnone size-full wp-image-396" title="jjf2010" src="http://www.rizkyardianto.com/wp-content/uploads/2010/03/jjf2010.jpg" alt="" width="800" height="450" /></a></p>
<p>Good Experience (In a Bad Way).</p>
<p>Tahun ini, untuk pertama kalinya, saya bisa menghadiri sebuah festival jazz terbesar di Indonesia, Java Jazz Festival 2010.  Acara ini merupakan sebuah one-stop-event untuk menikmati dan merasakan musik Jazz. Setidaknya itu yang saya harapkan ketika memutuskan untuk membeli tiketnya. Cerita tentang kemegahan dan kemeriahan dari teman-teman yang datang di tahun sebelumnya membuat saya semakin semangat untuk hadir di acara ini.</p>
<p>Sabtu sore, 6 Maret 2010, saya berangkat menuju Jakarta International Expo atau yang lebih dikenal sebagai area Pekan Raya Jakarta. Ya, tahun ini Java Jazz Festival tidak dilaksanakan di JCC Senayan seperti biasanya, <strong>to serve you better </strong>katanya, menurut media promosi yang saya baca. Perjalanan kesana menempuh waktu sekitar satu jam, melalui jalan tol dalam kota, dengan sedikit hujan rintik-rintik di sekitar Ancol. Sampai di sekitar JIExpo, saya terkejut! antrian mobil untuk menuju ke tempat parkir mencapai beberapa kilometer. Alhasil total waktu tempuh sampai mendapat parkir mencapai 3.5 jam, yang membuat saya terlambat untuk menyaksikan Aksan Sjuman, Maliq &amp; D&#8217;Essentials, Tika &amp; The Dissidents dan Andezz. Kejutan tidak hanya sampai disini, area JIExpo sangat ramai, seperti pasar malam, mirip dengan pasar di Chatuchak di Thailand atau seperti berada di dalam bis PPD di pagi hari, yang penuh sesak dengan penumpang dan panas.</p>
<p>Saat masuk ke Hall tempat pertunjukan, sejuknya AC hanya terasa di pintu masuk dan sudah tidak terasa lagi di dalam. Ditambah lagi tidak ada petunjuk yang jelas tentang pintu masuk dan keluar dari panitia sehingga desak-desakan antara pengunjung yang masuk dan keluar tak terhindarkan. Kejadian ini terjadi hampir di semua Hall yang menampilkan musisi terkenal seperti Lee Ritenour, Glenn Fredly, dan Sandy Sendhoro. Dengan keramaian seperti ini, sangat sulit untuk menyaksikan musisi yang benar-benar kita inginkan, karena harus kehilangan 30-60 menit untuk hadir lebih dulu di Hall untuk standby, sehingga kehilangan kesempatan untuk menyaksikan musisi lain. Alhasil, kita hanya bisa menikmati suasana Jazz di Hall yang tidak terlalu ramai, walaupun mungkin belum familiar dengan musisinya. Dari sisi audio, di beberapa venue, terasa bahwa antara musik dengan vokal kurang seimbang, dimana suara musik lebih dominan dari vokalnya, sehingga kurang nyaman untuk didengar.</p>
<p>Untuk saat ini, nampaknya menghadiri Java Jazz Festival adalah yang pertama dan terakhir. Secara umum, saya tidak mendapatkan kesan yang positif setelah menghadirinya. To-serve-you-better-nya benar-benar tidak terasa sama sekali. Saya akan lebih memilih untuk menikmati musik Jazz dari CD daripada kehilangan banyak waktu untuk menghadiri festival ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rizkyardianto.com/jjf2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Butterfly Effect</title>
		<link>http://www.rizkyardianto.com/tb/</link>
		<comments>http://www.rizkyardianto.com/tb/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 10:57:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rzrd</dc:creator>
				<category><![CDATA[Movie]]></category>
		<category><![CDATA[Thought]]></category>
		<category><![CDATA[[r:zrd]]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rizkyardianto.com/?p=330</guid>
		<description><![CDATA[
The butterfly  effect is a metaphor that encapsulates the concept of sensitive  dependence on initial conditions in chaos theory; namely that small  &#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-335" href="http://www.rizkyardianto.com/tb/img_8424/"><img class="alignnone size-full wp-image-335" title="IMG_8424" src="http://www.rizkyardianto.com/wp-content/uploads/2010/02/IMG_8424.jpg" alt="" width="800" height="450" /></a></p>
<blockquote><p>The butterfly  effect is a metaphor that encapsulates the concept of sensitive  dependence on initial conditions in chaos theory; namely that small  differences in the initial condition of a dynamical system may produce  large variations in the long term behavior of the system. Although this  may appear to be an esoteric and unusual behavior, it is exhibited by  very simple systems: for example, a ball  placed at the crest of a hill  might roll into any of several valleys depending on slight differences  in initial position. The butterfly effect is a common trope in fiction  when presenting scenarios involving time travel and with &#8220;what if&#8221;  scenarios where one storyline diverges at the moment of a seemingly  minor event resulting in two significantly different outcomes.</p>
<p>http://en.wikipedia.org</p></blockquote>
<p>Bulan Februari diawali dengan serial Lost Season 6 yang mulai tayang  kembali. Season ini merupakan penutup dari serial Lost yang telah  disiarkan sejak tahun 2004. Sejak awal, kehadirannya sudah menarik  perhatian, dengan tema kecelakaan pesawat yang tak biasa, plot ceritanya  sangat memukau dan membuat penasaran di akhir setiap episode-nya.</p>
<p>Ada yang menarik di episode pertama di season 6 ini. Cerita diawali  dengan selamatnya pesawat Oceanic815 dan sampai ke Los Angeles. Apakah  memang mereka berhasil merubah sejarah dengan meledakkan bom di pulau  tersebut? Jawabannya ada di 16 episode berikutnya.</p>
<p>Yang lebih menarik adalah, ide cerita untuk merubah sejarah dengan kembali  ke masa lalu. Sudah beberapa film mengetengahkan tentang tema serupa.  Sebut saja The Butterfly Effect, Heroes, Terminator dan Medley. Intinya  kita kembali ke masa lalu untuk merubah masa depan sesuai dengan yang  kita harapkan. Sebagian dari kita mungkin sering berandai-andai, gimana  kalo dulu kuliah di luar negeri, gimana kalo dulu ketinggalan pesawat,  atau gimana kalo dulu menerima tawaran kerja di Bank. Intinya, penyesalan atas berbagai kesempatan yang disengaja atau tidak, pernah kita lewatkan di masa lalu.</p>
<p>Secara umum, the butterfly effect merupakan sebuah konsep, dimana  perubahan dari hal kecil akan menimbulkan efek yang bervariasi di masa  yang akan datang. Di film The Butterfly Effect misalnya saat sang tokoh  utama, Evan, kembali ke masa lalu untuk merubah masa depannya, hal  tertentu memang sesuai dengan keinginannya, tapi selain itu juga ada  efek samping yang tidak dia inginkan diluar dugaannya. Hal ini pula  nampaknya yang dimunculkan kembali pada serial Lost season terakhir ini.  Visualisasi bagaimana jika Oceanic815 tidak mengalami kecelakaan dan  tiba di Los Angeles dengan selamat, akankah semuanya berakhir bahagia  atau justru malah berdampak buruk kepada mereka. Komentar klisenya, ya  kalo mereka selamat, ga bakalan ada serial ini, mungkin judulnya bukan  Lost.</p>
<p>Komentar saya, bagaimanapun usaha kita untuk kembali ke masa lalu dan  berusaha merubah sejarah, masa depan belum tentu sesuai dengan apa yang  diharapkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rizkyardianto.com/tb/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seniman Jalanan (?)</title>
		<link>http://www.rizkyardianto.com/fake/</link>
		<comments>http://www.rizkyardianto.com/fake/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Jan 2010 16:19:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rzrd</dc:creator>
				<category><![CDATA[Photoworks]]></category>
		<category><![CDATA[Thought]]></category>
		<category><![CDATA[[r:zrd]]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rizkyardianto.com/?p=301</guid>
		<description><![CDATA[
Sore ini saya melihat seorang pengemis, membawa tongkat dan berjalan normal. Ya, saya menduga dia hanya berpura-pura pincang untuk mengemis dan berharap iba dari kita. &#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-300" href="http://www.rizkyardianto.com/fake/img_8477/"><img class="alignnone size-full wp-image-300" title="IMG_8477" src="http://www.rizkyardianto.com/wp-content/uploads/2010/01/IMG_8477.jpg" alt="" width="800" height="452" /></a></p>
<p>Sore ini saya melihat seorang pengemis, membawa tongkat dan berjalan normal. Ya, saya menduga dia hanya berpura-pura pincang untuk mengemis dan berharap iba dari kita. Hal baru? tentunya tidak, beberapa kali pernah diliput dalam sebuah tayangan di televisi.</p>
<p>Salah? mungkin. Bisakah dianggap hal yang benar dan wajar? mungkin.</p>
<p>Bukan kapasitas saya untuk menuduh atau menghakimi. Saya hanya mempunyai pandangan yang berbeda tentang hal ini. Bagaimana jika saya anggap pengemis ini sebagai seniman, yang menggunakan kostum, ber-make-up dan &#8220;berakting&#8221; sedemikian rupa sehingga menimbulkan rasa iba, dan membuat kita rela membagi sebagian dari harta kita padanya. Lepas dari pengemis tersebut benar-benar membutuhkan makan sehingga memaksanya untuk menjadi pengemis atau sudah menjadi profesi, bukankah pengemis tersebut membuat kita untuk merendahkan hati, menyadarkan kita untuk tetap menghargai kehidupan ini, dan senantiasa bersyukur atas apa yang kita miliki.</p>
<p>Disadari atau tidak, kita sudah sering menerima tayangan tentang kepalsuan dan kebohongan di media. Misalnya tayangan yang diberi label reality show yang seharusnya berarti realitas, ternyata juga telah direkayasa sebagian (mungkin juga seluruhnya) agar lebih dramatis dan lebih menarik. Acara musik dengan band lengkap juga sebagian telah direkam sebelumnya dan kadang tak beda dengan yang ada di CD, apa bedanya dengan menonton <em>video clip. </em>Belum lagi beragam film baik itu <em>action, thriller, sci-fiction </em>yang penuh dengan <em>special effects </em>yang berlebihan dan tak masuk akal, baik secara logis maupun ilmiah. Tapi jujur, saya menyukainya, dan mungkin sebagain besar masyarakat juga.</p>
<p>Bagi saya, tak ada alasan untuk merendahkan atau menuduh pengemis atau beragam profesi lainnya yang mungkin secara kasat mata kita tahu bahwa dia berpura-pura. Jika memang kita berniat menolongnya, telusuri lebih jauh bagaimana kehidupannya, dan bantu agar dia mempunyai pekerjaan yang layak dan mengangkat derajatnya. Atau jika tidak mau repot, kita bisa anggap dia sebagai seorang seniman, dan kita memberi imbalan atas jasanya untuk terus menyadarkan kita menghargai hidup.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rizkyardianto.com/fake/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
