Sore ini saya melihat seorang pengemis, membawa tongkat dan berjalan normal. Ya, saya menduga dia hanya berpura-pura pincang untuk mengemis dan berharap iba dari kita. Hal baru? tentunya tidak, beberapa kali pernah diliput dalam sebuah tayangan di televisi.
Salah? mungkin. Bisakah dianggap hal yang benar dan wajar? mungkin.
Bukan kapasitas saya untuk menuduh atau menghakimi. Saya hanya mempunyai pandangan yang berbeda tentang hal ini. Bagaimana jika saya anggap pengemis ini sebagai seniman, yang menggunakan kostum, ber-make-up dan “berakting” sedemikian rupa sehingga menimbulkan rasa iba, dan membuat kita rela membagi sebagian dari harta kita padanya. Lepas dari pengemis tersebut benar-benar membutuhkan makan sehingga memaksanya untuk menjadi pengemis atau sudah menjadi profesi, bukankah pengemis tersebut membuat kita untuk merendahkan hati, menyadarkan kita untuk tetap menghargai kehidupan ini, dan senantiasa bersyukur atas apa yang kita miliki.
Disadari atau tidak, kita sudah sering menerima tayangan tentang kepalsuan dan kebohongan di media. Misalnya tayangan yang diberi label reality show yang seharusnya berarti realitas, ternyata juga telah direkayasa sebagian (mungkin juga seluruhnya) agar lebih dramatis dan lebih menarik. Acara musik dengan band lengkap juga sebagian telah direkam sebelumnya dan kadang tak beda dengan yang ada di CD, apa bedanya dengan menonton video clip. Belum lagi beragam film baik itu action, thriller, sci-fiction yang penuh dengan special effects yang berlebihan dan tak masuk akal, baik secara logis maupun ilmiah. Tapi jujur, saya menyukainya, dan mungkin sebagain besar masyarakat juga.
Bagi saya, tak ada alasan untuk merendahkan atau menuduh pengemis atau beragam profesi lainnya yang mungkin secara kasat mata kita tahu bahwa dia berpura-pura. Jika memang kita berniat menolongnya, telusuri lebih jauh bagaimana kehidupannya, dan bantu agar dia mempunyai pekerjaan yang layak dan mengangkat derajatnya. Atau jika tidak mau repot, kita bisa anggap dia sebagai seorang seniman, dan kita memberi imbalan atas jasanya untuk terus menyadarkan kita menghargai hidup.
It’s hard for me to see them as seniman jalanan. For me, karya seorang seniman tidak seharusnya ‘melukai’ perasaan.
Tiap liat pengemis terutama yg tampaknya terluka fisik, kadang yg muncul adl rasa kasihan DAN curiga. (If) They are faking it, they use it to manipulate other people emotion. Mnrtku mereka menyerah pada nasib. Poverty is not the reason to do that. Aku lbh menghargai para seniman jalanan yg lbh menghibur, seperti pengamen yg benar2 bisa beryanyi dan bermain musik atau jadi ronggeng lucu atau bahkan banci2 yg keliling kampung.
Satu hal yg srg dipikirkan ttg pengemis, tapi sgt disesalkan ga prnh aku lakukan Ky, nawarin mereka untuk dibawa ke panti sosial. And I wonder how they will react.
Saya pernah juga punya pengalaman, suatu senja di musim yang lalu (halah) saya pas lagi bawa makanan konsumsi dari training, dan mau saya kasih ke pengemis di sekitaran sudirman, dia nolak dong
padahal kan mereka ngemis buat nyari uang buat makan, ya kan?
Ketika mengemis udah dijadiin profesi, agak susah juga da, bukti nyata seorang pengemis di jalan merdeka di Bandung, usut punya usut, tabungan dia sampai puluhan juta loh.
Kalo boleh nyalahin, pemerintah berperan juga disini, mereka seolah tutup mata terhadap masalah yang satu ini dan ga mau terlibat. Pemerintah ga mampu untuk ngasih pekerjaan dan kehidupan yang layak buat mereka. Sempet kepikiran buat ngasih usaha ke mereka sih, dari yang simple aja mungkin, saya daftarin ke MLM yang ga butuh modal gede, misalnya. Semoga bisa terlaksana dalam waktu dekat.
iya benar, klo mengemis dijadikan profesi, mana mau dibayar pake makanan. sini sini Ky aku bayar kamu pake gorengan tiap hr, tapi tlg cuciin bajuku yaa…
kalo mengandalkan pemerintah, susah kayanya Ky di negara kita yg msh dlm kelas negara berkembang. masih terlalu sibuk mengurusi hal-hal lain yg dianggap lbh vital.
Btw berkembang atau maju ya negara kita ini ?
MLM is a good idea. Mudah-mudahan mereka mau bekerja as a normal person. Viva Indonesia
uh oh kok emoticonku ga ada yg muncul 1 pun