Good Experience (In a Bad Way).
Tahun ini, untuk pertama kalinya, saya bisa menghadiri sebuah festival jazz terbesar di Indonesia, Java Jazz Festival 2010. Acara ini merupakan sebuah one-stop-event untuk menikmati dan merasakan musik Jazz. Setidaknya itu yang saya harapkan ketika memutuskan untuk membeli tiketnya. Cerita tentang kemegahan dan kemeriahan dari teman-teman yang datang di tahun sebelumnya membuat saya semakin semangat untuk hadir di acara ini.
Sabtu sore, 6 Maret 2010, saya berangkat menuju Jakarta International Expo atau yang lebih dikenal sebagai area Pekan Raya Jakarta. Ya, tahun ini Java Jazz Festival tidak dilaksanakan di JCC Senayan seperti biasanya, to serve you better katanya, menurut media promosi yang saya baca. Perjalanan kesana menempuh waktu sekitar satu jam, melalui jalan tol dalam kota, dengan sedikit hujan rintik-rintik di sekitar Ancol. Sampai di sekitar JIExpo, saya terkejut! antrian mobil untuk menuju ke tempat parkir mencapai beberapa kilometer. Alhasil total waktu tempuh sampai mendapat parkir mencapai 3.5 jam, yang membuat saya terlambat untuk menyaksikan Aksan Sjuman, Maliq & D’Essentials, Tika & The Dissidents dan Andezz. Kejutan tidak hanya sampai disini, area JIExpo sangat ramai, seperti pasar malam, mirip dengan pasar di Chatuchak di Thailand atau seperti berada di dalam bis PPD di pagi hari, yang penuh sesak dengan penumpang dan panas.
Saat masuk ke Hall tempat pertunjukan, sejuknya AC hanya terasa di pintu masuk dan sudah tidak terasa lagi di dalam. Ditambah lagi tidak ada petunjuk yang jelas tentang pintu masuk dan keluar dari panitia sehingga desak-desakan antara pengunjung yang masuk dan keluar tak terhindarkan. Kejadian ini terjadi hampir di semua Hall yang menampilkan musisi terkenal seperti Lee Ritenour, Glenn Fredly, dan Sandy Sendhoro. Dengan keramaian seperti ini, sangat sulit untuk menyaksikan musisi yang benar-benar kita inginkan, karena harus kehilangan 30-60 menit untuk hadir lebih dulu di Hall untuk standby, sehingga kehilangan kesempatan untuk menyaksikan musisi lain. Alhasil, kita hanya bisa menikmati suasana Jazz di Hall yang tidak terlalu ramai, walaupun mungkin belum familiar dengan musisinya. Dari sisi audio, di beberapa venue, terasa bahwa antara musik dengan vokal kurang seimbang, dimana suara musik lebih dominan dari vokalnya, sehingga kurang nyaman untuk didengar.
Untuk saat ini, nampaknya menghadiri Java Jazz Festival adalah yang pertama dan terakhir. Secara umum, saya tidak mendapatkan kesan yang positif setelah menghadirinya. To-serve-you-better-nya benar-benar tidak terasa sama sekali. Saya akan lebih memilih untuk menikmati musik Jazz dari CD daripada kehilangan banyak waktu untuk menghadiri festival ini.
i aggree with you…. this festival should be more presticious than this…. gilanya ngga bisa make ponsel sama sekali disana…
hanya beberapa gambar aku bisa tangkap di java jazz… ngga konsen ama jadwal…
ini fto siapa???
ki kunjungin balik donk
http://crazyaboutcats.multiply.com/photos/album/45/Java_Jazz_2010
Haha, lupa, ini siapa ya
saking padetnya venue disana, pas dapet yang agak sepi langsung deh masuk, ga peduli performernya siapa, xixixi..
hahaha…. i know what u feel… he he…
emang ya, jadinya aku ngerasa rugi… tapi fotonya bagus