Melihat tayangan The Master di RCTI, pikiran saya kembali ke masa kanak-kanak, dimana TK tempat saya bermain beberapa kali mengundang pesulap untuk tampil di depan kami, dan saya dengan sukarela menjadi volunteer, maju ke depan, bermain bersama pesulap dan setelahnya mendapat coklat atau permen. Saat itu saya sangat mengagumi pesulap karena dia dapat menjadi pusat perhatian dan membuat saya tertegun dan terheran-heran.
Menginjak SD, saya tidak lagi hanya sekedar menonton pertunjukan sulap, tapi saya mulai mencari tahu dan membeli beberapa trik sulap sederhana yang dijual di depan sekolah. Mulai dari trik kartu, menyalakan korek dengan menggesekkan sepatu, sampai memakan potongan kertas dan yang keluar dari mulut adalah seuntai kertas yang panjang.
Kehadiran David Copperfield, David Blaine, Deddy Corbuzier dan acara sulap lainnya di televisi selalu saya nantikan setiap minggunya. Sampai akhirnya sempat vakum beberapa lama dan tayangan The Magic Revealed kembali menggairahkan dunia sulap. Saya juga sependapat dengan alasan si pesulap di tayanyan ini kenapa dia membocorkan trik sulap kepada masyarakat, agar dunia sulap semakin berkembang dan pesulap semakin kreatif mengembangkan triknya.
Beberapa tahun yang lalu, film Christian Bale dalam The Prestige juga sangat berkesan, dimana pesulap-pesulap tersebut saling beradu trik dengan totalitas demi mendapatkan prestise sebagai pesulap, walaupun harus mengorbankan cinta dan keluarganya. Ada satu hal yang menarik dalam film ini, dimana saking totalnya, si pesulap harus berjalanseolah-olah dia sudah tua renta dan berjalan dengan terbungkuk-bungkuk agar image sebagai pesulap tua dia dapatkan, padahal sebenarnya dia sehat wal afiat.
Dan di tahun 2009 ini acara The Master menggebrak dunia persulapan di Indonesia yang beberapa tahun sebelumnya hanya dikuasai oleh beberapa orang seperti Deddy Corbuzier, Demian, dan pesulap yang sangat saya kenal, Mister Robin yang telah menghibur dan memberi inspirasi sejak saya kanak-kanak.